<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=9642268&amp;blogName=Joki+Irawan&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_BLOGSPOT&amp;navbarType=SILVER&amp;layoutType=CLASSIC&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Foqirawan.blogspot.com%2Fsearch&amp;blogLocale=en_US&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Foqirawan.blogspot.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" allowtransparency="true" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>

09 November 2009

Memulai Generasi Jujur

kusutnya hubungan KPK-Polri bikin semua orang bingung, mana yang benar, dan mana yang salah.

Kalo ada satu kejadian dengan argumen yang bertolak belakang spt itu, menurut itungan matematika sederhana ada satu kepastian kesimpulan, yaitu : Minimal satu pihak bohong.

Oiya, bohong mungkin terlalu kasar, kita ubah dengan TIDAK JUJUR.

Mereka orang2 hebat, tapi kenapa bisa tidak jujur?

Saya punya anak kecil. Dia belum ngerti apa2, tapi dia udah mulai tahu apa yang benar dan salah.

Beberapa kali saya liat dia sulit makan, kadang dibujuk supaya mau makan.

Saya berpendapat, kalo anak nggak mau makan, mesti ada apa2nya, nggak bisa dipaksa. Dan ternyata benar, dia muntah, keluarlah isi perutnya. Artinya, dia tidak lapar. Siapa yang ngisi perutnya dengan makanan yang beraneka ragam? Bukankah kita sendiri?

Setelah perutnya kosong, dia makan dengan lahap. Balik lagi... dia masih bersih, belum bisa berbohong, dan masih jujur.

Balik lagi ke sulit makan.

Kalo rayuan kita yang masih jujur tidak manjur, kita mulai nambah2... "ayo makan, nanti kita naek becak..." atau "ayo makan, tuh temennya sudah nunggu di luar..."

Atau dengan ancaman... "kalo nggak makan, kamu nggak boleh ini - itu.."

Padahal, kita nggak punya niat ngajak dia naek becak....

Padahal, kita sendiri nggak liat ada temennya di luar....

Padahal, kalo nggak makan pun dia boleh ini-itu...

Bohong adalah tidak sesuainya isi hati dengan ucapan kita! Kita bisa berkilah, tapi hati kita nggak... kecuali kalo kita biasa nggak jujur!

Dengan trik spt itu, dia mau makan.... tapi sebenernya... nggak cuman nasi yang dimakan, melainkan ketidakjujuran kita.

Saya bilang ke pengasuh anak saya, "lebih baik nggak makan daripada dibohongin.."

Ada akibat apabila anak kita sering dibohongi meskipun sepele...

1. Dia akan jadi pembohong...
2. Kita tidak akan dipercaya...

Kita ingin anak kita adalah anak yang jujur, apabila kita menjanjikan sesuatu, DO IT!!! LAKSANAKAN MESKIPUN BERAT!!!!

Jangan sampe kita cuman omong doang, hanya bisa mengungkapkan wacana yang nggak ada artinya.

Semua dimulai dari kita mendidik anak kita...

Dan sebelum ini... semua dimulai dari kita... sebagai orang tua....

Apabila kita masih meneruskan kebiasaan orang tua kita yang tidak jujur... mari kita ubah sekarang....!!!

Apakah mau anak kita jadi pembohong spt yang lain, spt generasi2 kita sebelumnya? Bukankah semua berasal dari keluarga? Lebih baik dipercaya oleh anak kita, daripada anggun di masyarakat tapi dianggap omong kosong oleh anak2 kita.

Mudah2an Tasniim bisa menjadi cahaya kejujuran bagi lingkungannya, dan khususnya bagi keluarganya...

21 October 2009

Maaf Mas

suatu saat saya mendengar cerita yang mengharu biru, saya nggak tau kisah nyata atau nggak, tapi menurut pendapat saya, biasanya kisah2 spt ini sudah ditambahi bumbu supaya lebih sedap dibaca.

Pernah dengar tentang pemilihan khalifah? orang yang dipimpin sedih karena dia tau akan memegang tanggung jawab yang begitu besar.

Mimik tidak bisa berbohong, bagaimana dengan calon menteri yang sudah diwawancarai? Sumringah!!! Kalaupun mengaku sedih, tapi bicaranya sambil senyum2, hmm... selamat ya Pak.

Apakah karena uang yang diterima akan banyak? Mungkin itu salah satunya ya, gaji menteri hanya 5 juta, tapi baiknya liat take home pay-nya deh. Katanya uang sakunya sampe 150 juta, mantap.

Pendapatan spt itu bagi saya pribadi pantes2 aja ya karena mereka memegang tanggung jawab yang berat, itu kalo mereka mikir ya.

Tapi sebenernya, kalo ngomong soal take home pay, bisa lebih gede dari itu, karena kalo kita megang jabatan strategis, otomatis kita megang jabatan lain, otomatis juga pundi2 bertambah.

Dibalik pundi2, ada hal lain yang jadi idaman banyak orang pingin jadi menteri, yaitu kehormatan.

Saya nggak akan ngomong soal yang tinggi2 itu deh, tapi justru sebaliknya.

Kenapa? keadaan di tivi berbeda dengan keadaan perjalanan pulang jakarta bogor, khususnya pasar rebo-termina baranangsiang.

Bis ngetem lama, kesel banget, belum lagi penjual yang masuk bis, ampun2an sangat mengganggu ketentraman dan kesunyian jiwa raga kita yang sedang letih setelah menempuh perjuangan mengepul asap dapur.

Tapi kalo kita bisa mikir lebih jauh, kasian sama sopir bis, liat kernet teriak2, penumpang dikit, liat penjual minuman, udah tua, sampe liat pengemis tua, kenapa harus seperti itu?

Kemarin ada hal yang bagi saya pribadi cukup menggelitik.

Ada pengamen, hmm..., maaf, benernya bukan pengamen karena dia nggak bisa nyanyi, dia hanya puisi menyampaikan sajak.... setelah itu minta uang, lumayan maksa, saya kasih 500.

Pas bis berangkat, ada pengamen muda belia, sepanjang jalan dia menyanyikan lagu sunda. Setelah hampir sampai bogor, dia jalan mengharapkan imbalan. Setiap menyapa penumpang, dia mengucapkan salam, kalo kita nggak ngasih, dia mengucapkan istighfar, kalo ngasih, mengucapkan hamdallah.

Yang menarik, dari kedua pengamen itu mengucapkan istilah yang hampir sama "tolong dong seribu aja...."

Menarik ya, sekarang bukan jaman cepe atau gope lagi, seribu!!!

Makanya pas saya ngasih 500, dia diam aja.

Mereka juga menyindir orang yang susah ngeluarin uang barang 100 atau seribu.

Mas pengamen....

Kami ini penumpang, kami tau anda sulit, tapi kami juga lagi sulit.

Anda bayangkan, sehari kami lebih dari sekali naik kendaraan umum, dan kami bertemu lebih dari sekali orang2 spt Anda.

Kalo kami harus memberi sebagian rejeki kami ke setiap orang spt Anda, berapa ribu rupiah yang harus kami keluarkan, dikalikan lima hari dalam seminggu, dikalikan lagi dalam sebulan. Penumpang emang banyak, tapi saya liat yang lain juga sama spt itu.

Makanya Mas, kami mohon maaf. Minta tuh duit sama mas2 yang sedang menikmati manisnya hidup di parpol. Atau, coba deh lebih berkreatif lagi dalam berseni, beberapa kali saya liat, orang yang nyanyinya kreatif, misalkan pake gendrang, atau biola, atau duet, dengan beberapa atraksi akan lebih mudah dapet imbalan dari penumpang. Meskipun untuk itu jelas lebih sulit.

Kesimpulannya adalah, hidup penuh persaingan, ada di satu sisi orang yang sumringah, ada juga di sisi lain yang sangat sulit untuk hidup.

Bersyukurlah kita masih punya pekerjaan yang tetap, jauh dari hiruk pikuk yang nggak karuan, masih bisa merencanakan hari esok penuh optimisme, jauh dari keberpura2an dan masih dilindungi dari bencana.

13 October 2009

Dizalimi

ada kawan lama. Lumayan kami pernah deket, lama2 saya males berhubungan, karena setelah dipikir2, kok saya dikerjain mulu ya dari dulu, dan dia hanya menghubungi kalo ada perlu aja.

Mungkin gini deh ilustrasinya.

A dan B.

B minta tolong, A bantuin.
B minta tolong beliin kue, A bantuin beliin kue.
B minta tolong cariin ojek, A bantuin cariin ojek.

Sekarang B sudah PE (Posisi UEeenak - versi istri saya).

A janjian dengn B, ternyata B ingkar. A nunggu dong, kesel banget.
A minta tolong ke B, ternyata nggak ada tanggapan dari B, wah... gawat nih.

B ngehubungi lagi ke A, seperti biasa minta tolong lagi.

A ngerasa nolong nolong dan nolong...

B ngerasa biasa aja.

Suatu saat, B ke si A lagi. Nah, si A ogah2an...

Bagaikan orang, yang biasanya sedekah 10.000, sekarang mah 1000 aja deh, yang penting sedekah...

Si B bingung, "biasanya gue dikasih sepuluh ribu plus senyum nih, tapi kok sekarang cuman segini ya.."

Wah... B puyeng, ngerasa dizalimi... "Salah apakah aku? kok aku dizalimi spt ini...?" hiks..hiks..hiks...

Wahai B, pergunakanlah logika..., apabila kita biasa dikasih kebaikan, terus suatu saat kita nggak dikasih, apakah itu zalim?

Wahai B, kamu tuh biasa dikasih, kapan kamu membalas ngasih padahal kamu punya kesempatan yang sangat banyak? kok pengennya dikasih mulu, nggak fair dong.

Wahai B, mari berpikiran jernih, apabila kita sedang nggak dikasih, kenapa ngerasa diri disakiti? dan kenapa nganggap orang lain menyakiti kita. Bukankah kita diajarkan untuk berbaik sangka?

Ramadhan memang sudah lewat, ada satu saat kita mengerem kebaikan kepada seseorang, kalo kita menganggap hasil akhir malah membawa keburukan bagi kita. Mengerem kebaikan, bukan berarti menghentikan kebaikan kan?

Ayo... jangan mellow... kok sejak jadi penggemar partai jadi mellow gitu....

28 August 2009

Dimanapun Ada

orang yang lalai dimanapun ada. Lalai di sini adalah memang lalai dan nggak punya tanggung jawab.

Pernah saya kerja kelompok pas kuliah dulu, bergabung sama orang2 males, nggak nepatin janji, alias munafik (maaf kalo terlalu kasar, tapi memang kenyataannya spt itu). Cape banget karena harus kerja sendiri, gedor2 mereka, dsb.. Nilai akhir ternyata mereka lebih baik, sakit juga sih, tapi biarlah karena Allah Maha Tahu.

Dimanapun ya orang2 itu selalu ada, di tetangga, pekerjaan atau bahkan keluarga kita sendiripun.

Orang meninggalkan tanggungjawabnya. Alesannya ya ada aja, nganter ini itulah, tapi anehnya ya, kok beberapa waktu lalu bolak balik ke dokter sampe nggak bisa masuk kerja. Hmmm....

Yah...., semua tergantung niat... apa sih niatnya?

Apabila kita melakukan apa yang berlawanan dengan yang kita ucapkan, dan apalagi dengan disengaja, jangan sakit hati kalo orang mencap kita punya tanda2 munafik.

20 August 2009

Proses

Ada urutan proses sebagai berikut :

Proses 1. saya jalan kaki sepanjang 5 km melewati tempat sampah menuju tempat ojek
Proses 2. saya naek ojek selama 10 menit sampai pinggir jalan
Proses 3. saya naek bis penuh sesak ke terminal bis
Proses 4. saya naek bis AC ke jakarta
Proses 5. di jakarta saya naek bis kota mercedes
Proses 6. saya turun di hotel bintang lima
Proses 7. saya tiba di kos-kosan saya di pinggir kali

Apabila saya hanya menulis urutan sbb :
Saya naik Mercedes sampai hotel bintang lima dan tinggal di sana.

Apakah saya berbohong ?

Tidak, karena memang saya naek Mercedes, bahkan Mercedes tiga pintu!

Cuman masalahnya.

Apakah itu terbuka ?

Tidak, karena banyak iinfo yang dipendam, saya hanya bercerita hal yang mewahnya, meskipun nggak ada yang dibanggakan.

Ya! Bangga! Itu kata kuncinya.

Beberapa orang menutupi beberapa kejadian yang sebenarnya hanya untuk membanggakan dirinya.

Apabila orang yang mendengar adalah orang yang nggak ngerti, dan belum ngerti, dan punya sifat yang sama2 seneng ngebanggain, ceritanya bisa lebih heboh lagi, dibumbuin macem2.

Balik lagi ke asal.... saya termasuk yang lemot dalam beginian. Mudah sekali kagum, tapi mungkin satu kelemahan saya, saya suka melanjutkan omongan itu di pikiran saya. Nah, dari situ, baru ketahuan bahwa ternyata saya biasanya dikibulin, atau orang itu pinter ngomong.

Gimana cara mengetahuin bahwa saya dikibulin ?

Liat backgroud orang tersebut, hubungkan cerita yang sekarang dengan cerita2 sebelumnya, hubungkan juga dengan kelakuannya, hubungkan juga dengan recordnya selama ini. Intinya, liat semuanya. Dari situ, akan keliatan yang mungkin dan nggak mungkin.

Pernah saya nulis di sini, mungkin sangat kasar ya. Ada orang bicaranya luar biasa pinter, saya awalnya kagum, tapi lama2 kok ada anehnya ya, terutama dari tindakannya. Nah, kalo pinter ngomong spt politikus saya nggak mau komentar, tapi ini masalah teknis akademis. Akhirnya saya iseng2 aja ngecek, ternyata memang betul bicaranya ketinggian. Dan pernah saya tulis juga, kalo dia memang sepintar ucapannya, seharusnya dia bisa masuk perguruan tinggi negeri terbaik di negara ini, bahkan nggak cuma itu, dia seharusnya bisa masuk SMP-SMA terbaik di kotanya, karena saya cek, ternyata dia nggak sekolah di SMP-SMA terbaik di kotanya, nggak tau kalo alesannya karena jarak atau hal lain.

Lagi2 balik lagi ke awal, mari kita tingkatkan dari sekedar jujur menjadi terbuka. Bicaralah apa adanya, kalo memang keadaannya biasa aja, janganlah membanggakan diri dengan ngomong besar, karena bagi saya pribadi, saya lebih bangga dengan orang biasa yang tidak asal ngomong.

12 August 2009

Baju

banyak orang mengandalkan tampilan dari baju.

Banyak orang juga mencibir orang lain dari baju. Dia nggak dijilbab, artinya dia belum baik. Benarkah begitu?

Beberapa orang saya temui senang menggunakan baju koko, kesannya islami. Tapi apakah baju koko itu betul2 islami?

Setau saya nggak ya, ada yang bilang baju koko itu sebenernya dari cina, karena mirip dengan baju cina.

Kalo baju orang2 arab biasanya namanya baju gamis.

Oke lah kita nggak ngebahas masalah itu. Balik lagi ke masalah baju.

Kita sering liat orang kalo sholat di masjid pake baju koko, rapi sekali.

Tapi pertanyaannya, bagaimana kalo sholat di rumah sendiri? Di depan keluarga sendiri?

Kita kadang juga berpergian atau menerima tamu pakai baju itu, tapi bagaimana dengan sholat kita sendiri kalo kita sedang di rumah.

Jangan sampe kita berbaju bagus dengan kopiah nemplok di kepala hanya karena ingin dipandang islami.

Memang pake baju apa aja sholat insya Allah tetep sah asalkan bersih dari najis dan menutup aurat.

Mari kita mulai dari diri sendiri, jangan sampe kita sering ujub merasa kita sudah melakukan kebaikan, merasa sudah islami dan merasa paling pintar.

Mari kita mulai dengan perbuatan, bukan ucapan.

Dan mari kita niati dengan ibadah, bukan ingin dipuji atau dipandang orang lain, atau bahkan ingin dipilih oleh orang lain. Janganlah kita menipu orang lain, dan janganlah kita menjual agama kita dengan harga yang murah.

Omong kosong ngomong dakwah kalo hal2 kecil sepele aja dilewatin, ucapan nggak sama dengan kelakuannya. Mudah2an kita dijauhi dari sifat yang dibenci Sang Pencipta.

30 July 2009

Gelar

gelar bisa menaikkan status seseorang.

Ada yang menjadikan haji sebagai gelar, menurut saya itu berlebihan ya, kenapa orang sholat nggak dikasih gelar?

Ada gelar guru besar.

Beberapa yang saya liat, ini nggak sepenuhnya bener.

Pernah ada kasus di Jerman, seorang guru besar diangkat jadi direktur perusahaan BUMN, nah, selama diangkat itu, dia meninggalkan gelar professornya, pas dipecat dari BUMN dan balik lagi ke kampus, dipake lagi gelarnya.

Kita? Kadang beli dengan mudah gelar2 strata, bahkan banyak juga yang kebelet pake gelar guru besar, nggak tau maksudnya gimana ya. Tapi setau saya gelar guru besar itu cara memperolehnya berat, makanya, kalo guru besar dari PTN saya hormat karena memang prosedurnya relatif benar, nah, nggak tau nih kalo gelar profesor dari swasta. Yang berat juga, bingung kalo profesor swasta ngaku2 dari PTN.

Berdasarkan undang2 diknas, gelar profesor bisa dipake selama dia mengajar, sama spt kasus di Jerman. Nggak tau nih di kita gimana, banyak profesor yang udah nggak ngajar tapi nggak mau ngelepas gelarnya.

Wah.... apa nggak malu ya kalo spt itu.

Mendingan kita nyiapin satu gelar ya untuk akhirat nanti, yaitu gelar almarhum.

02 July 2009

Masuk Surga Sendirian

pernah suatu waktu saya baca artikel tentang masuk surga sendirian. Lupa ya, udah lama banget.

Isinya sederhana sekali, tapi lumayan menyentuh.

Kira2 sarinya begini :

Banyak orang berusaha beribadah maksimal dengan harapan masuk surga, yang digenjot hanya ibadah vertikal, tanpa ibadah horizontal.

Padahal, Rasul sendiri, dalam suatu riwayat menyatakan, bahwa orang yang masuk surga duluan, adalah yang mengutamakan ibadah horizontalnya, maaf ya, soal ini hanya Allah Yang Maha Tahu.

Beberapa orang bolak-balik ibadah haji sampai menghabiskan kuota yang lain, bolak-balik ke Mekkah untuk ibadah umrah.

Mereka rata2 bilang, "ibadah yang sangat lezat."

Apakah mereka pernah memperhatikan sodara2 sekelilingnya?

Kenapa kita pergi jauh2 ke Mekkah tapi apakah kita sudah nengok sanak sodara kita yang sakit?

Apakah kita juga sudah bersedekah ke sodara2 kita yang butuh biaya untuk sekolah?

Kenapa kita bilang badan sakit, cape, sudah jantungan jadi nggak bisa nengok atau sampai membatalkan janji, tapi kok pergi2 pelesir yang jauh ke gurun pasir muncul semangat 45? Sampai2 ada pertanyaan "sudah berapa kali kamu umrah? sudah berapa kali kamu haji?"

Apakah Rasul sendiri hajinya sampai berkali2 spt itu?

Apakah ada perbaikan dengan bolak-baliknya kita ke gurun pasir?

Bukankah menengok orang sakit, atau melayat orang meninggal, atau bersilaturrahim dengan orang lain juga merupakan ibadah?

Bukankah ke masjid juga suatu kebaikan daripada sholat sendiri di rumah?

Pertanyaan terakhir, apakah sebegitu egoisnya kita sehingga kita hanya pingin masuk surga sendirian? Tanpa bantuan orang2 lain? Tanpa mengikut sertakan orang2 lain?

Wallahua'lam bissawab....

28 May 2009

Bis Bogor-Uki

hal yang saya khawatirkan ternyata terjadi.

Tapi saya yakin nggak akan lama, karena menyangkut ribuan orang.

Apa itu?

Bis UKI - Baranangsiang sudah dilarang!

Alasannya untuk mengurai kemacetan.

Tapi kok tadi saya naek motor masih macet ya?

Bus way katanya juga untuk mengurai kemacetan?

Tapi kok masih macet juga ya?

Saya pribadi keputusan beginian dan diambil saat beginian tuh menilai lebih cenderung ke politis ya, apalagi mau pilpres.

Berkali-kali dan berkali-kali...

macet itu gara2 system, nggak bisa kita menyelesaikan hal yang begitu rumit dengan ngatur satu komponen dari system itu sendiri.

Betul memang bahwa bis AKAP itu salah satu pemicu kemacetan, karena penumpang turun, banyak angkot ngetem, banyak ojek, sampe preman dari Indonesia timur juga panen jutaan rupiah tiap hari.

Tapi kok masih macet?

Ya jelas dong...

Saya mau ngasih tau dari satu sisi aja ya.

Penjualan mobil kita itu di negeri ini setaun lebih dari 400 ribu unit.

Kalo 5%-nya di Jabodetabek, terus panjang mobil dikali 3 meter, lebar mobil dikali 1,5 meter, nah... itung aja berapa penambahannya.

Gimana dengan penambahan jalan kita?

Gimana juga dengan penambahan kualitas prasarana transportasi kita?

Itu belum itungan motor yang jumlahnya jauh lebih banyak.

Pertanyaannya, gimana salah satu solusinya?

Salah satunya ya angkutan massal.

Nah, bis itu termasuk salah satu angkutan massal. Apalagi bis bogor jakarta, nyaman, murah-meriah.

Kalo angkutan massal dihapus, gimana solusinya?

Apa orang disuruh naek mobil? 1 mobil paling isinya hanya tiga orang, coba liat di Cawang.

Katanya pemerintah pro rakyat, tapi kok jalan mikirnya spt itu ya?

Saya pikir ini bukan solusi tepat, saya cenderung lebih nyelesein solusi hukum dan prasarana dulu yang dibenerin. Nggak keputusan instan kayak gini.

Sekitar 5-6 taun lalu, persisnya saya lupa ya. Penduduk jakarta di siang hari 10 juta, kalo malam sekitar 6-7 juta.

Artinya, ada 3 juta tiap hari yang keluar masuk Jakarta.

Kenapa pemerintah malah ngemanjain si pemakai mobil, bukannya ngebenahi angkutan massal?

Saya bisa ngomong gini karena di rumah ada mobil istri yang nganggur. Saya lebih ngerasa nyaman dan aman naek angkutan massal UKI-Baranangsiang. Ini malah dihapus karena macet.

Bingung deh cara mikir pemerintah kita...

Dan siapapun yang nanti duduk di pemerintahan, ya tetep kayak gitu... nggak peduli backgroundnya apa, semua omong kosong.... selama orang2 yang antara tindakan dan ucapannya berbeda di negeri ini tetep megang kekuasaan.

13 May 2009

Dokter

saya sedang flu, kemarin ke dokter THT di sebuah rumah sakit dekat rumah saya.

Dokter praktek jam dua siang, dan jam dua kurang saya sudah datang.

Ternyata dokter datang jam setengah tiga lewat, ngaret!!!

Saya berusaha guyon dalam hati sambil menahan badan yang lagi nggak enak : wah, payah nih, udah bayar mahal, sakit, eh... disuruh nunggu lagi.

Saya dapet nomor urut dua, dan nggak sekitar jam tiga saya dipanggil masuk.

Dokter pelit bicara, itupun kalo ditanya, usianya sekitar lima puluh tahun.

Saya dikasih empat macam obat, yang kalo ditebus, termasuk ongkos dokter adalah sekitar lima ratus ribu.

Benernya saya pengennya ke dokter umum aja dan minta obat generic, secara kualitas nggak jauh. Tapi karena waktu sudah sore, informasi serba terlambat, ada orang tua saya datang ke rumah, tasniim agak rewel, ya semua diabaikan, toh dapet penggantian dari tempat kerja saya yang sangat saya cintai.

Efek obat biasa aja, emang lebih baik, tapi nggak sesuai dengan harganya, mungkin sugesti kali ya, karena saya nggak sreg sama dokternya. Ya karena dia nggak komunikatif, dingin, dsb..

Dari beberapa dokter, nggak cuman THT ya, tapi dokter lain juga, saya mau klasifikasiin dokter berdasar usia, ini menurut pendapat saya pribadi, dan saya yakin nggak semua orang setuju:

1. Dokter tua, usianya di atas 48 tahun
Dokter spt ini jarang ngomong, mungkin terlalu bosen ngadepin pasien, dia jawab kalo ditanya doang, ngasih resep nggak ngomong apa2, ya spt dokter THT saya itu tuh. Sama juga spt dokternya Tasniim yang katanya paling bagus se Bogor.

Pinter, tapi kalo bisu ya percuma aja ya.

Dokter tua kan banyak pengalamannya? Itu mungkin diliat dari sisi baiknya.

Tapi kita liat dari sisi lainnya. "Ilmunya kan ilmu tua juga, sedangkan ilmu kedokteran kan berkembang juga, dia mau belajar nggak?"

2. Dokter tanggung, usianya kurang dari itu.
Ini dokter bingung, rada mirip dengan di atas, tapi lebih ramah, ilmu dan pengalamannya bagus. Biasanya mulai masuk ke puncak karier, pasiennya banyak.

3. Dokter baru, sekitar 35-42 tahun.
Ini dokter baru, biasanya baru lulus spesialis, nggak ditanyapun otomatis ngomong sendiri, saya suka dokter yang kayak gini ngejelasin macem2, kita jadi tahu apa dasarnya dia ngasih obat.

Dokter yang kayak gini masih menerapkan ilmunya, karena yang saya tau, dokter harus mengiformasikan semua ke pasien.

Ilmunya? Kebalikannya dengan dokter tua, kalo mau ambil baiknya "Dokter ini ilmunya gress, mempelajari ilmu kedokteran dengan teknologi tercanggih candra dimuka."

Pengalaman? Emang mungkin nggak sebanyak dokter tua, tapi saya pikir pendidikan dokter di indonesia cukup bagus, karena prakteknya super banyak banget, ya jelas aja, penduduknya banyak, dan banyak yang penyakitan.

4. Dokter hijau, kurang dari 30 tahun
Ini dokter yang baru lulus, belum spesialis, kalo untuk penyakit sederhana ya cukup mantap, tapi kalo penyakitnya berat dan nggak sembuh, dokter ini biasa disebut dengan dokter spesialis rujukan.

Itu macem2 dokter berdasar usia menurut versi Joki Irawan.

Tiga hal yang penting yang sangat saya perhatikan dalam milih dokter, terutama dokter untuk anak saya :
1. Pinter
2. Komunikatif
3. Lulusan mana

Nomor tiga mungkin sulit ya, dokter2 sekarang mungkin masih banyak lulusan negeri UMPTN, kok penting?

Ya jelas penting, dokter kan perlu analisa dan diagnosa, kalo pinter kan diagnosa lebih bagus. Mungkin ini nggak terlalu penting ya sekarang, tapi nggak tau sepuluh dua puluh tahun ke depannya. Saya nggak mau ke dokter yang sekolahnya bermodalkan duit doang tapi nggak banyak mikir.

Jadi sekali lagi untuk saat ini... pinter doang nggak cukup karena saya pengen tau dasarnya...

Informatif doang nggak cukup karena nggak ada bedanya dengan dukun (yang cuman ngomong doang)....

Udah dulu...